Memuat Tanggal...
BREAKING NEWS
Sedang memuat berita terkini...

Sandima Bertahan di Era Digital lewat Regenerasi

Web Master Oktober 12, 2026


Samarinda – Keberadaan Sandiwara mamanda (Sandima) sebagai seni teater tradisional khas Samarinda menghadapi tantangan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan minat generasi muda. Namun, kesenian yang telah berkembang selama puluhan tahun tersebut terus diupayakan agar tetap hidup dengan menyesuaikan bentuk penyajiannya dengan perkembangan zaman.

Maestro Sandima, Elansyah Jamhari, mengatakan seni tradisi akan semakin sulit bertahan apabila tidak mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi masyarakat saat ini. Karena itu, Sandima terus mengangkat persoalan kekinian dan mendekati generasi muda melalui hal-hal yang mereka sukai.

“Tidak dapat dimungkiri bahwa seni tradisi itu selalu ditinggal oleh generasi berikutnya karena tidak bisa menyesuaikan dirinya dengan situasi dan kondisi saat ini,” kata Elansyah saat menjadi narasumber siaran berjaringan suara budaya nusantara, dikutip Senin 12 Oktober 2026.

Menurutnya, pada era 1980-an, pemain Sandima sudah berupaya memasukkan hal-hal yang sedang digemari masyarakat ke dalam pertunjukan. Lagu-lagu yang populer pada masa itu, misalnya, diangkat ke atas panggung sehingga pertunjukan terasa lebih dekat dengan kehidupan penonton.

Upaya tersebut kini kembali dilakukan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital. Elansyah menyebut Sandima mulai hadir melalui YouTube, Facebook, dan berbagai media digital lainnya.

“Kalau mereka senang main di media, ya kita main di media. Kita main di YouTube, kita main di TikTok dan sebagainya, kita buat potongan-potongan adegan yang selama ini pernah kita mainkan di TVRI,” ujarnya.

Elansyah menilai Sandima memiliki ruang yang luas untuk melibatkan generasi muda karena kesenian tersebut bersifat universal. “Sandima ini adalah suatu seni yang universal, di sana ada musik, ada naskah, ada sastra, ada seni rupa, dan ada musik-musik tradisi yang unik,” ucapnya.

Ia menambahkan, Sandima tidak hanya berbicara mengenai masa lalu, tetapi juga dapat mengangkat persoalan masa kini dan masa depan. Melalui berbagai cerita yang dibawakan, generasi muda juga dapat belajar mengenai nilai baik dan buruk, kasih sayang, serta berbagai pesan kehidupan.

Di sisi lain, Elansyah menyebut keberadaan Sandima kini semakin mendapat perhatian setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2026. Menurutnya, status tersebut membuat Sandima tidak lagi hanya menjadi milik masyarakat Samarinda, tetapi menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Dalam perjalanan pelestariannya, Elansyah juga menilai RRI memiliki peran penting dalam memberikan ruang bagi Sandima. Pada sekitar 1993 hingga 2003, Sandima pernah mendapatkan ruang siaran di RRI melalui pertunjukan yang disiarkan secara langsung, tunda, maupun rekaman.

“RRI salah satu media yang selama ini sudah memberikan panggung untuk Sandima sehingga bisa bertahan sampai detik ini. Seni tradisi itu perlu panggung, perlu tempat apresiasi,” ucapnya.

Menurut Elansyah, pemberian ruang pertunjukan dan apresiasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi. Ia berharap Sandima terus mendapat dukungan dari berbagai pihak sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tetap dikenal dan diminati generasi berikutnya.

Copas dari:
https://rri.co.id/samarinda/budaya/2803860/sandima-bertahan-di-era-digital-lewat-regenerasi