TENGGARONG– Sandiwara Mamanda (Sandima) FORMAT, kembali menorehkan catatan penting dalam perjalanan seni budaya Kalimantan Timur. Setelah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia Tahun 2026, kelompok seni tradisi asal Kota Samarinda itu mendapat kehormatan tampil di hadapan para raja, sultan, dan tamu kehormatan dari berbagai negara dalam acara Jujungkaseh Keputraan Dirgahayu Raja Mulawarman di Hotel Ety Singgasana, Bukit Biru, Tenggarong, Selasa (14/7/2026) malam.
Selama kurang lebih satu setengah jam, para pemain Sandima membawakan lakon bertajuk "Lestarikan Budaya Etam". Pertunjukan memadukan seni peran khas Mamanda, humor yang segar, iringan musik Salating, serta pesan-pesan tentang pentingnya menjaga identitas budaya daerah di tengah derasnya arus modernisasi.
Penampilan tersebut mendapat sambutan hangat dari para tamu. Tepuk tangan beberapa kali menggema di ruang pertunjukan sebagai bentuk apresiasi terhadap kemampuan para pemain membawakan cerita yang menghibur sekaligus sarat nilai budaya.
Acara itu dihadiri oleh Maharaja Kutai Mulawarman Prof. Dr. M.S.P.A. Iansyah Rechza, FW, B.Soc., M.Res., PhD, bersama para raja, ratu, pangeran, dan tokoh kerajaan dari berbagai daerah di Indonesia serta negara sahabat, antara lain Malaysia, Singapura, Thailand, dan Prancis.
Sejumlah tokoh yang hadir di antaranya Paduka Yang Mulia Dra. Ely Yuniarti, M.S., M.M. selaku Ratu Kedatuan Besemah Sriwijaya Nusa Sumatra Bagian Selatan, Baginda Ratu Prof. Dr. (H.C.) BRAy. Erna Santoso, S.Sos., PhD. dari Mangkunegaran Jawa Tengah, Prof. Dato' Seri Dr. Goh Kwee Keng, JP., Prof. Dato' Seri Dr. Sumphand Rathaphattaya, DSc., Pangeran Adipati Dr. (H.C.) Zahir, S.Kel., PhD., serta puluhan tamu kehormatan lainnya.
Pementasan tersebut menjadi bukti bahwa Sandima FORMAT mampu tampil percaya diri di forum bertaraf internasional tanpa meninggalkan pakem seni teater tradisional yang telah diwariskan lintas generasi. Melalui dialog, musik, dan alur cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, Sandima berhasil memperkenalkan wajah budaya Kalimantan Timur kepada para tamu dari berbagai latar belakang budaya.
Momentum ini juga memperkuat posisi Sandima sebagai salah satu duta budaya Kalimantan Timur setelah memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pengakuan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi masyarakat Samarinda, tetapi juga menjadi dorongan untuk terus memperluas ruang tampil seni tradisi di tingkat nasional maupun internasional.
Ke depan, Forum Aktualisasi Seni Tradisional (FORMAT) menyatakan kesiapan memainkan Sandima untuk memenuhi undangan pementasan dari berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian kebudayaan. Kerja sama terbuka dijalin dengan pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, maupun berbagai organisasi yang memiliki visi serupa dalam mengembangkan seni dan budaya daerah.
Meski demikian, FORMAT menegaskan bahwa kelompok ini tetap menjaga independensinya sebagai seni budaya. Kelompok ini tidak terlibat dalam aktivitas politik praktis dan hanya bersedia memenuhi undangan sebagai bagian dari pertunjukan seni dan pelestarian budaya.
Dengan semangat tersebut, Sandima terus melangkah membawa identitas budaya Etam ke panggung yang lebih luas. Berawal dari Samarinda, kini Sandima semakin menunjukkan eksistensinya sebagai warisan budaya yang mampu berbicara di hadapan dunia. (SANDIMA.MY.ID)










Tidak ada komentar