SAMARINDA: Sejak lama teman-teman seniman mengusulkan kepada kami di Sandima FORMAT untuk membuat film cerita Sandima berbasis Artificial Intelligence (AI). Gagasan ini sangat menarik dan sebenarnya sudah beberapa kali kami diskusikan bersama sejumlah sahabat, terutama Sultan Elansyah.
Namun, ada satu kendala mendasar yang hingga kini masih menjadi tantangan, yaitu soal pendanaan. Ya, persoalan dana memang selalu menjadi faktor penting dalam setiap proses penciptaan karya seni, termasuk pembuatan film Sandima berbasis AI ini.
Mungkin ada yang bertanya, "Bukankah tidak perlu syuting, menyewa peralatan, atau mengorganisasi para pemain? Tinggal menggunakan komputer dan AI saja, bukan?"
Anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Memang benar, secara teknis proses pembuatan film berbasis AI dilakukan melalui komputer dengan bantuan berbagai aplikasi AI. Akan tetapi, yang sering luput dipahami adalah bahwa proyek seperti ini tidak mungkin mengandalkan aplikasi AI versi gratis.
Sebagian besar generator video AI versi gratis hanya memberikan kuota yang sangat terbatas. Gemini Veo, misalnya, hanya menyediakan jatah sekitar tiga video berdurasi 5–10 detik per hari. Jumlah tersebut tentu sangat jauh dari cukup, bahkan untuk menghasilkan satu adegan sederhana.
Sebagaimana proses syuting film konvensional, pembuatan video menggunakan AI juga tidak selalu berhasil sesuai harapan pada percobaan pertama. Sering kali hasilnya harus diulang berkali-kali hingga memperoleh visual yang benar-benar sesuai dengan naskah dan imajinasi. Setiap proses pengulangan tersebut membutuhkan token atau kredit AI yang tidak sedikit.
Bayangkan jika hanya untuk satu adegan saja sudah memerlukan banyak percobaan. Tentu akan jauh lebih besar lagi kebutuhannya jika ingin menghasilkan sebuah film berdurasi puluhan menit, bahkan satu jam.
Karena itulah, membuat film menggunakan AI tetap membutuhkan biaya yang cukup besar. Kita memerlukan akun premium dengan kuota kredit yang besar, bahkan idealnya tanpa batas (unlimited). Selain itu, kita juga harus memilih mesin AI (AI engine) yang paling mutakhir agar kualitas visualnya benar-benar maksimal. Perlu diketahui pula bahwa generator video AI bukan hanya satu jenis. Ada banyak pilihan engine, masing-masing memiliki kelebihan dan karakteristik yang berbeda sesuai kebutuhan produksi.
Belum lagi setelah semua potongan video selesai dibuat, masih ada proses penyuntingan yang tidak kalah penting. Seluruh klip harus dirangkai menjadi sebuah alur cerita yang utuh, menarik, dan enak ditonton. Semua itu membutuhkan waktu, keterampilan, serta tenaga editor profesional. Rasanya tidak adil jika pekerjaan sebesar itu tidak dihargai dengan layak.
Meski demikian, semua tantangan tersebut bukan berarti membuat impian ini mustahil diwujudkan. Kami justru optimistis masih banyak pihak yang peduli terhadap pelestarian budaya dan bersedia memberikan dukungan. Buktinya, selama lebih dari 30 tahun Sandima FORMAT mampu bertahan dan terus berkarya berkat dukungan berbagai pihak, mulai dari individu, komunitas, lembaga, hingga instansi pemerintah.
Kini, Sandima juga telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI). Pengakuan ini tentu menjadi penyemangat sekaligus membuka peluang yang lebih besar untuk mendapatkan perhatian dan dukungan dari berbagai kalangan. Ditambah lagi, eksistensi Sandima kini semakin dikenal masyarakat luas, sehingga peluang hadirnya sponsor maupun mitra kolaborasi juga semakin terbuka.
Kami berharap cita-cita menghadirkan film cerita Sandima berbasis AI ini dapat terwujud. Bukan sekadar menjadi tontonan yang menarik, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya, edukasi bagi generasi muda, sekaligus bukti bahwa warisan budaya tradisional mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern.
Semoga segala ikhtiar ini dimudahkan oleh Allah SWT dan dapat menjadi kontribusi positif bagi pelestarian budaya Indonesia serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Aamiin.

Tidak ada komentar