Memuat Tanggal...
BREAKING NEWS
Sedang memuat berita terkini...

Mengapa Sandima Khas Samarinda?

Web Master April 15, 2022


Sebagaimana telah kami sebutkan di awal tadi, bahwa Mamanda masuk ke Kalimantan Timur dibawa oleh orang-orang Banjar yang pada jaman dahulu kala memang terkenal suka berinteraksi dengan suku-suku lain di Kalimantan. Apalagi Kalimantan tempo dulu belum terbagi-bagi dalam sekat administratif provinsi seperti sekarang ini. Saat itu kita hanya dikelompokkan dalam suku dan kerajaan yang membawahi komunitas tertentu.

Hubungan antar etnik masyarakat Kalimantan (Borneo) berjalan secara alami, mereka mengadakan hubungan dagang, pernikahan, hingga saling bantu dalam mempertahankan otoritas kerajaan. Bahkan kemudian saat terjadinya perang merebut kemerdekaan saling bantu dalam melawan penjajah juga menjadi salah satu tali perekat hubungan antar suku yang ada di bumi Boreneo ini. Tak terkecuali suku banjar yang membawa kesenian Mamanda juga berinteraksi dengan kelompok lain hingga ke Kalimantan Timur ini.

Di Bumi Mulawarman (Kalimantan Timur) kemudian Mamanda tumbuh beriringan dengan kesenian lokal lainnya. Bahkan kemudian Mamanda Kalimantan Timur menemukan bentuknya sendiri yang berbeda dengan Mamanda yang ada di Kalimantan Selatan. Dan bahkan kemudian terbentuklah secara alami kesenian baru yang khas Samarinda yang dikenal dengan nama Sandiwara Mamanda. Diperkirakan hal ini sudah ada sejak tahu 70-an.

Menurut seniman pelestari Sandiwara Mamanda yang saat ini giat mengembangkan kesenian tradisional di Kaltim, Elansyah Jamhari, Mamanda Kalimantan Timur Tidak Sama persis dengan Mamanda Kalimantan Selatan. Meski sekilas ada beberapa kesamaan, namun dalam menyesuaikan dengan budaya Kaltim, Mamanda di daerah ini telah mengalami banyak perubahan, bahkan perubahan pakem yang tidak sama lagi dengan Mamanda Kalimantan Selatan. Dan kemudian mencari bentuk nya sendiri yang disebut dengan Sandima (Sandiwara Mamanda).

Hal ini menurut Elansyah adalah wajar. Kalimantan Timur adalah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan adalah Kalimantan Selatan. Meski mungkin Mamanda Kalsel dan Kaltim memiliki akar yang sama, namun kemudian akar itu tumbuh denga warna dan karakter sesuai lingkungannya sendiri. Memang masih ada Manada asli yang memegang pakem sama persis dengan yang ada di Kalimantan Selatan, namun itu sudah sangat langka dan jarang dipertunjukan.

Apa yang dikatakan oleh budayawan Elansyah Jamhari ini tentu sangat beralasan dan sesuai dengan kennyataan. Dalam beberapa pertunjukan Sandiwara Mamanda yang ada di Kalimantan Timur kita akan menemui banyak perbedaan dengan Mamanda yang dipentaskan di Kalimantan Selatan.

Jika kita jeli, maka kita bisa melihat bahwa perbedaan Sandiwara Mamanda Kalimantan Timur dibanding mamanda murni di  Kalimantan Selatan bukan hanya dari jalan ceritanya namun juga pakem-pakem busana, musik pengiring dan lagunya,  tatacara penampilan, hingga karakter penokohanya.

Oleh karena itu Mamanda Kalimantan Timur di masa sekarang telah mengalami transformasi kea rah modernitas tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi dan unsur-unsur kearifan lokal yang lebih kental. Bahkan dalam seni Sandiwara Mamanda yang saat ini dikembangkan oleh Forum Aktualisasi Seni Tradisional (FORMAT) Kalimantan Timur, dibuka pintu yang luas bagi masuknya unsur-unsur seni lain yang sebelumnya tidak pernah ada dalam Mamanda asli Kalimantan Selatan.

Transformasi Sandiwara Mamanda ala FORMAT ini tentu sedikit banyak menimbulkan kontroversi, namun demikian dengan niat yang kuat untuk tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi dan menjaga prinsip-prinsip dasar kesenian tradisi ini, para seniman tradisional yang tergabung dalam FORMAT tetap yakin bahwa beberapa penyesuaian yang mereka lakukan tidak akan menghilangkan nilai-nilai tradisi dengan aneka kerifan lokal yang dikandungnya.