Memuat Tanggal...
BREAKING NEWS
Sedang memuat berita terkini...

Sandiwara Mamanda

Web Master April 15, 2022

 

Sandiwara Mamanda berasal dari dua kata yaitu Sandiwara dan Mamanda. Sebuah nama kesenian yang benar-benar asli Samarinda. mengapa demikian? Karena Sandiwara Mamanda memang adanya hanya di Samarinda.

Jika ada yang bertanya, bukankah Mamanda adalah kesenian asli Kalimantan Selatan? Benar, Mamanda adalah seni tetaer tradisional yang bermula di kalimantan Selatan yang kemudian dibawa oleh orang-orang Banjar ke Samarinda.

Namun perlu diketahui bahwa mamanda ini kemudian beralkulturasi dengan aneka budaya lokal kalimantan Timur dan membentuk varian sendiri di beberapa daerah dengan menampilkan ciri daerahnya masing-masing. Dan ketika telah menjadi seni khas daerahnya ia bukan lagi mamanda (asli) meski masih ada kata mamanda dalam penyebutannya.

Sebagaimana Mamanda sendiri yang kita sepakati merupakan seni teater asli kalimantan Selatan, toh faktanya juga merupakan akulturasi dari budaya luar yang dibawa oleh bangsawan Malaka. Dimana di tempat asalnya kesenian ini disebut badamuluk.

Menurut sejarahnya, pada tahun 1897 M,  rombongan Abdoel Moeloek dari Kesultanan Malaka datang ke Banjar. Rombongan yang lebih dikenal dengan sebutan Komedi Indra Bangsawan ini dipimpin oleh Encik Ibrahim bin Wangsa bersama istrinya, Cik Hawa. Rombongan ini menetap di Banjar hanya selama 10 bulan saja.

Meski demikian, kesenian yang dibawa oleh rombongan ini dengan sangat cepat berpengaruh di Banjar. Hingga akhirnya pada abad ke-19 M, muncul sebuah kesenian baru bernama Ba Abdoel Moeloek atau Badamuluk yang diperkenalkan oleh  Anggah Putuh dan Anggah Datu Irang.

Nama kesenian itu berasal dari judul cerita tentang Abdoel Moeloek yang dikarang oleh Saleha, sepupu Raja Ali Haji. Badamuluk berkembang hingga ke Pasar Lama Margasari, Periuk (Margasari Ilir), Pabaung, Merapian, dan Hulu Sungai. Badamuluk semakin memasyarakat. Seiring perkembangan waktu, masyarakat Banjar lebih senang menyebut kata Mamanda.

Menurut Hermansyah (2007), kesenian Mamanda, sebagaimana pada umumnya teater rakyat, merupakan karya seni yang tercetus dengan sendirinya dalam kehidupan masyarakat. Artinya, kesenian ini dihayati oleh masyarakat karena memang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri.

Pada awal mulanya, masyarakat membutuhkan adanya hiburan. Lambat laun, mereka juga memerlukan adanya sebuah upacara yang dipadukan dengan hiburan yang sudah ada. Akhirnya, terciptalah kesenian teater rakyat Mamanda ini sebagai bentuk hasil karya dan kreativitas umat manusia.

Kesenian rakyat yang muncul sebagai ekspresi kebudayaan masyarakat biasanya pada masa awal perkembangannya masih sangat sederhana. Ada banyak bentuk teater yang masih sangat sederhana di Indonesia. Teater semacam ini biasanya cukup dilakukan oleh satu, dua, atau tiga orang saja.

Pada awal mulanya, teater ini merupakan suatu bentuk sastra ungkapan yang dinyanyikan dan dalam perkembangannya kemudian dipertunjukkan dengan diiringi musik-musik tradisi.

Istilah “Mamanda” berasal dari kata “mama” yang berarti “paman atau pakcik” dan kata “nda” sebagai morfem terikat yang berarti “terhormat”. Jika digabung, Mamanda berarti “paman yang terhormat”. Kata paman merupakan kata sapaan dalam sistem kekerabatan masyarakat Banjar. Sapaan ini juga berlaku untuk orang yang dianggap seusia atau sebaya dengan ayah atau orang tua. Kata ini juga sering digunakan oleh seorang sultan ketika menyapa mangkubumi atau wazirnya dengan sebutan “mamanda mangkubumi” atau “mamanda wazir”. Kata Mamanda juga sering digunakan dalam syair-syair Banjar.

Meski Mamanda sudah bisa dikatakan sebagai seni daerah Kalimantan Timur, namun kita tak bisa mengingkari bahwa kesenian ini awal mulanya berkembang di Banjar (Kalimantan Selatan). Bahkan dalam kenyataannya, perkembangan kesenian  Mamanda tak terlepas dari peran orang-orang Banjar yang bermukim di Kalimantan Timur. Hal ini dapat dilihat dari beberapa tempat berkembangnya kesenian ini di Samarinda yang insya Allah akan kami bahas di bab lain dalam buku ini.

Teater rakyat Mamanda merupakan kesenian asli Suku Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Teater ini telah dibawa oleh rombongan bangsawan Malaka pada tahun 1897 M. Rombongan ini, di samping bermaksud melakukan kegiatan perdagangan, juga memperkenalkan suatu kesenian baru yang bersumber dari syair Abdoel Moeloek. Kesenian tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Badamuluk. Seiring perkembangan zaman, sebutan untuk kesenian ini berkembang menjadi Bamanda atau Mamanda. Berikut ini akan dikemukakan terlebih dahulu bagaimana sejarah dan perkembangan kesenian Mamanda di Kalimantan Selatan.

Sejak masa Kerajaan Negara Dipa, masyarakat Kalimantan Selatan telah mengenal beberapa jenis kesenian tradisional, seperti  wayang, topeng, dan joged. Ketika Islam mulai berkembang di Kalimantan Selatan pada tahun 1550 M, terutama setelah berdirinya Kesultanan Banjar yang mendapat bantuan dari Kesultanan Demak, kesenian-kesenian tradisional semakin dikenal rakyat.

Pada masa itu, pihak kerajaan memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk melakukan kegiatan seni dan budaya. Sehingga, kesenian-kesenian yang bercorak Islam makin berkembang, seperti seni hadrah, rudat, zapen Arab, dan sebagainya.

Pada tahun 1620 M, tepatnya pada masa pemerintahan Panembahan Batu Putih (Sultan Rahmatillah), banyak orang mulai mempelajari seni tari dan seni suara yang diajarkan oleh ahli-ahli seni dari Jawa dan Semenanjung Tanah Melayu. Perkembangan kesenian di Kalimantan Selatan masih terus berlanjut. Pada tahun 1701 M, Sultan Banjar pernah mengutus Pangeran Singa Marta untuk membeli kuda Bima. Selain membeli kuda, Pangeran Singa Marta ternyata juga menikah dengan seorang Putri Bima yang dikenal sebagai ahli seni. Mereka kembali ke Kalimantan Selatan dengan membawa sejumlah kesenian tradisional asal Bima.

Mereka menciptakan tari Jambangan Kaca dan tari Pagar Mayang. Kesenian-kesenian tradisional kian dekat di hati rakyat Banjar.

Pada masa pemerintahan Pangeran Hidayat (1845-1859 M), kesenian berkembang dengan sangat pesat. Apalagi, Pangeran Hidayat merupakan seorang seniman sejati yang sangat memperhatikan perkembangan kesenian ketika itu.

Ada dua aliran dalam Mamanda, yaitu:

1.          Aliran Batang Banyu. Aliran ini dipentaskan di perairan atau sungai sehingga disebut dengan istilah Mamanda Batang Banyu. Aliran yang juga disebut Mamanda Periuk dan berasal dari Margasari ini merupakan cikal bakal Mamanda.

2.         Aliran Tubau (lahir pada tahun 1937 M). Aliran yang berasal dari Desa Tubau Rantau ini merupakan perkembangan baru dari Mamanda yang kini justru sangat terkenal. Aliran ini berkembang pesat di Kalimantan Selatan. Dalam pementasannya, cerita yang diangkat tidak bersumber dari syair atau hikayat, namun dikarang sendiri dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Struktur pertunjukannya masih seperti teater pada umumnya, yang dimulai dari ladon atau konom, sidang kerajaan, dan cerita. Pementasan aliran ini tidak mengutamakan musik atau tari, namun lebih mengutamakan bagaimana isi ceritanya. Aliran ini biasanya dipentaskan di daratan sehingga juga dikenal dengan sebutan Mamanda Batubau.    

Mamanda kini mengarah kepada perkembangan kesenian yang lebih populer. Meski begitu, kekhasannya masih tetap terjaga, terutama dalam hal penggunaan bahasa Banjar, simbolisasi nilai-nilai budaya, dan pesan-pesan sosial yang disampaikannya. Struktur dan karakteristik yang menjadi kekhasan Mamanda tidak pernah berubah. Perubahan yang terjadi biasanya hanya pada soal busana, musik, improvisasi, dan ekspresi artistiknya.